,,WelComE,,,,,,,,,,,,,,

,,Selamat datang di blog_ku,,,,

Senin, 21 Juni 2010

Islam Bukan Cuma Nasyid

Posted in Buletin Studia Tahun ke Lima by abu fikri on the April 20th, 2007



Nama-nama Raihan, Saujana, Hijjaz, atau Brothers makin familier di telinga kita. Lagu-lagu nasyidnya itu lho yang bikin kita kesengsem. Lembut, syahdu, dan kalem. Bisa menghanyutkan kita dalam mengingat Allah atau bermuhasabah (tapi bukan sebagai pengantar tidur lho). Kaset dan CD-nya juga gampang diperoleh di toko-toko kaset. Apalagi di bulan suci ini. Dijamin bejibun. Abis laku keras sih. Malah ada juga kompilasi MP3-nya yang bajakan dan dijual eceran di kaki lima. Itu juga kalo nggak keburu digerebek ama aparat. Hehehe…

Nggak cuma didengerin, nasyid mulai banyak dilantunkan oleh remaja muslim. Buat mereka yang lagi kasmaran kontan hapal Teman Sejati-nya Brothers. Ehm, buat yang lagi berkobar semangat Islamnya langsung melalap semua lagu dalam album Kembali-nya Izzatul Islam. Mereka yang merasa ideologis juga ikutan berhip-hop nyanyiin tembang-tembang Soldiers of Allah. Atau yang lagi belajar bahasa arab berpartisipasi dengan Hadad Alwi dan Sulis dalam Cinta Rasul.? Bang Toyyiiib….Bang Toyyiiib. Eh maaf, salah muter kaset. Harusnya: Ya Thoyyibaah….ya thoyyibaah…. (Hihihi)

Biasanya anak-anak rohis atau primus alias pria mushola keranjingan bikin group nasyid. Selain untuk menggiatkan syiar Islam, bisa juga sebagai media penyaluran bakat bermusik. Booming grup-grup nasyid baru pun tak terbendung. Apalagi sekarang banyak digelar festival nasyid. Semuanya pada pengen unjuk gigi. Mentang-mentang pake pepsodent (ini iklan ya?). Syukur-syukur bisa masuk dapur rekaman. Kan lumayan. Daripada masuk dapur restoran. Entar disuruh cuci piring lagi. Hehehe….

Dan kini nasyid makin dianggap spesial dan jadi komoditi bisnis. Buktinya sampai dibikin festival dan konser segala. Ditayangin di layar kaca lagi. Kayak Festival Nasyid Indonesia (FNI) dan Nasyid Tausyiah dan Qiraah (NTQ) yang lagi jadi pembicaraan hangat.

FNI yang dilaunching 23 Juni 2004 silam kini memasuki babak final dengan 10 group yang berhasil lolos audisi. Para finalis ini akan menjalani masa karantina dengan sistem pesantren. Di sini mereka bakal dapetin pembekalan dari segi musikal, performance, siraman rohani, dan pengembangan diri. Indosiar menyiarkan kegiatan mereka setiap hari selama Ramadhan dari tanggal 15 Oktober hingga 12 November 2004. Setiap minggunya akan ada dua grup yang akan tereliminasi, hingga tersisa empat grup yang akan bertemu di grand final 12 November mendatang.

Sekadar tahu aja, modal untuk menggelar FNI itu cukup gede lho, ongkos produksinya dari mulai penginapan peserta festival (di Raffles Hill, yang pernah dipake peserta AFI 1-3), hingga ditayangkan di layar kaca, kata Manajer Nondrama Indosiar, Jufipriyanto, sekitar Rp 1 Miliar. (Koran Tempo, 17 Oktober 2004)

Sementara TV7 nggak mau kalah dengan menghadirkan NTQ dari tanggal 7 Oktober hingga 4 November 2004. Festival yang satu ini agak laen. Selain menuntut kemampuan munsyid (penyanyi nasyid) untuk menunjukkan harmonisasi olah vokal (nasyid), salah seorang munsyid dalam grup masing-masing juga dituntut untuk dapat menunjukkan kemampuannya melantunkan ayat suci al-Quran (qiraah) dengan benar serta menginterpretasikannya dengan baik (tausyiah). Biar para finalis nggak cuma bisa nyanyi, tapi juga nyelipin tausyiah atau qira’ah dalam aksi panggungnya. Jangan-jangan ini kaderisasi ABRI alias Anak Buah Rhoma Irama. Hehehe…

Seni Islam di negeri kita
Seni Islam yang berwujud tembang-tembang religius emang bukan barang baru di negeri kita. Jaman bonyok (bokap-nyokap) kita, masyarakat kenal seni Islam terbatas pada musik qasidah atau irama gambus. Dengan iringan alat musik kepret (tabuh/pukul) semacam rebana atau ketimpring (kecrekan), jenis musik ini dianugerahi julukan �band kepret’. Meski begitu, lagu Perdamaian, Indung-indung, atau Jilbab-jilbab Putih masih populer di kalangan guru-guru Agama Islam setingkat SD. Bener lho!

Sayangnya, personel qasidah ini yang biasanya akhwat suka ikut joget bin goyang pinggul ngikutin irama gambus yang mepet-mepet dangdut. Malah seringkali mereka tampil ber-tabarruj (menampakkan kecantikan tubuhnya). Polesan lipstik di bibir dan sapuan make up di wajah yang terkesan menor. Jelas perpaduan ini jadi keliatan norak dengan balutan busana muslimah yang menjaga kehormatannya. Terus alunan musiknya juga terdengar monoton binti kaku. Otomatis lambat laun qasidah atau irama gambus ini kian terkubur di telan perkembangan musik pop. Wassalam deh!

Tahun 70-an, musik religius mulai mendapatkan tempat lagi di hati para penggemar musik. Adalah Bimbo Cs yang mengenalkan musik pop berlirik religius. Kelompok asal Bandung itu telah menggarap lagu seperti Tuhan, Rindu Rasul, sampai Anak Bertanya pada Bapaknya yang terbukti menjadi lagu sepanjang masa.

Suasana musik religius makin kondusif dengan hadirnya nasyid. Terutama setelah muncul kelompok vokal Raihan dari Malaysia yang turut mempopulerkan nasyid yang ngepop dan easy listening sekitar tahun 1996. Tak lama kemudian, grup nasyid asal Malaysia pun membanjiri Indonesia. Sebut saja Rabbani, Hijjaz, Brothers, In-Team, atau The Zikr dan masih banyak lagi.

Grup nasyid domestik yang mengemas lirik religius dengan pendekatan pop juga kian berkibar. Ada Senandung Nasyid dan Dakwah alias Snada, Suara Persaudaraan, Izzatul Islam, ar-Ruhul Jadid, atau Shoutul Harakah.? Oya, Ruhul Jadid dan Izzatul Islam terkenal sebagai grup nasyid yang mengobarkan semangat juang. Aseli semangat banget tuh!

Sejak saat itu, popularitas nasyid kian booming. Bagi remaja muslim, nasyid udah jadi bagian dari keseharian mereka. Gimana nggak, dengan variasi jenis musik, nasyid kini mampu mewakili budaya remaja yang beragam. Semua aliran musik mampu diselami grup-grup nasyid baru. Dari yang nge-pop, mars yang menggugah semangat, melankolis, sampe yang rap bin hip-hop. Tinggal milih sesuai selera.? Makanya nggak usah kaget kalo kita nemuin temen kita tengah komat-kamit kayak dukun baca mantra. Kali aja doi lagi nge-rap Staring Into Kafirs Eyes-nya Soldiers of Allah (SOA). Huhuy!

Jangan terlena alunan nada
Sobat muda muslim, bukan aib kalo kita jatuh cintrong ama nasyid-nasyid yang kian trend. Saking kesengsemnya, winamp di komputer penulis nggak mau berhenti muterin lagu-lagu dari Hawari, BMP, Bijak, Nada Murni, Saujana, atau The Fikr sambil bikin tulisan ini. Tapi kita juga nggak pengen nasyid bikin kita terlena. Idih, emangnya Ikke Nurjannah? Wacks!

Sobat muda muslim, tentu kita semua udah tahu kalo hukum bernyanyi itu mubah. Karena pada masa Rasul banyak shahabat yang hobi nyanyi atau sekadar bersenandung sepengetahuan beliau. Dan beliau mendiamkannya (taqrir). Seperti yang dikerjakan Salman al-Farisi saat menggali parit ketika akan menghadapi perang Khandaq. Bahkan Rasul sendiri mengangkat seorang shahabat ahli syair bernama Hasan bin Tsabit. Doi bertugas mengobarkan semangat kaum Muslimin di medan pertempuran dengan syair-syairnya yang heroik plus energik.

Dan sudah sepatutnya kemubahan itu tetap pada tempatnya alias nggak ngotak-ngatik aktivitas lain yang hukumnya wajib atau sunnah. Ada kekhawatiran pada ajang festival nasyid seperti yang digeber FNI atau NTQ. Kenapa?

Mengingat banyaknya porsi waktu, pikiran, tenaga, dan harta yang dialokasikan dalam pagelaran festival yang makan waktu cukup lama ini bisa bikin lalai dari kewajiban untuk berdakwah, mengkaji Islam secara intensif, atau mengoreksi kebijakan penguasa yang mendzhalimi rakyat. Panitia sibuk nyiapin perlengkapan, akomodasi, sampe monitoring perkembangan peserta saban hari. Pesertanya juga nggak kalah sibuk latihan biar penampilan mereka di atas panggung tidak mengecewakan.

Lagian kalo kita bercermin pada perilaku keseharian Rasulullah dan para sahabat, waktu mereka lebih banyak dialokasikan untuk beribadah, menyebarkan pemahaman Islam, berjihad, dan sesekali bercengkrama dengan keluarga. Ini berarti sedikit sekali waktu yang diberikan untuk mencari hiburan, termasuk bernyanyi-nyanyi. Catet tuh!

Selain itu, kehadiran FNI atau NTQ berbarengan dengan tren ajang pencarian bakat sekuler kayak AFI, Indonesian Idol, atau KDI. Seolah festival itu digelar sebagai ajang tandingan. Moga-moga nggak ya. Afwan, bukannya kita mau ngerecokin. Cuma was-was aja dengan format acara itu yang dikemas seperti AFI dkk yang kental dengan alam kapitalis bin komersil. Jangan sampe deh nasyider jadi kayak seleb pada umumnya: haus popularitas, pujian, jadi sumber penghasilan, serta bergaya glamour. Bahkan nggak mau manggung kalo bayarannya rendah. Walah!

Yang lebih parah, kalo niat ikhlas untuk berdakwah via jalur nasyid lambat laun bermetamorfosis menjadi riya’. Masa’ sih? Asli. Bayangin aja, pas di atas panggung. Benih-benih takabbur dan riya’ mulai mencari mangsa. Tepukan tangan yang gemuruh, pujian serta histeria pendengar bisa menenggelamkan akal sehat dan melambungkan perasaan kita. Rasullah saw. bersabda: “Siapa yang memperdengarkan amalnya kepada lain orang, maka Allah memalukannya di hari kiamat, dan barang siapa yang memperlihatkan amalnya kepada orang, Allah membalas riya’nya itu.� (HR Bukhari, Muslim)

Kalo sudah begini, apa mungkin jebolan FNI atau NTQ itu bisa seperti Hasan bin Tsabit? Mungkinkah akan muncul generasi Salman al-Farisi? Atau jangan-jangan malah berkeliaran versi islamnya Very atau Sutha AFI?? Walah, seleb islami kali yee (hehehe).

Budaya bukan yang utama
Sobat, kita bersyukur banget dengan antusias semua lapisan masyarakat terhadap seni Islam. Setidaknya mulai tumbuh kecintaan terhadap Islam. Sekaligus mampu meng-kick balik seni-seni jahiliah bin sekuler yang meraja lela. Tapi tentu kita nggak merasa cukup dengan kegembiraan ini. Tanpa bermaksud mengecilkan peran nasyid atau munsyid yang berdakwah di jalur seni suara, kita kudu nyadar kalo Islam isinya bukan cuma budaya. Bener. Budaya cuma bagian kecil aja.

Belum pas rasanya kalo kita jadikan tren nasyid sebagai parameter kebangkitan Islam. Sebab kebangkitan itu hanya akan diraih dengan adanya perubahan pemikiran dan perilaku umat ke arah yang lebih baik. Dan Rasulullah nggak ngasih contoh kalo perubahan itu bisa diraih dengan bersenandung. Tapi dengan pembinaan akidah, syariat, dan dakwah secara intensif. Pokoknya digeber iman, ilmu dan amalnya untuk perjuangan membela Islam.

Karena itu, boleh aja kita dengerin nasyid dikala jenuh binti bete atau bikin grup nasyid untuk sekadar penyaluran bakat. Anggap aja sebagai penyemangat dan penghibur perjuangan. Tapi inget, di luar sana umat yang tengah dijajah sistem sekuler sangat membutuhkan uluran tangan kita untuk bangkit.

Kalo pengen menghidupkan Islam, Islam itu ideologi, bukan budaya. Sehingga, jika ingin menghidupkan Islam, maka harus difokuskan perjuangannya kepada kampanye penerapan syariat Islam sebagai ideologi negara. Seni, musik, dan sejenisnya adalah bagian kecil saja dalam khasanah ideologi Islam. Kalo ideologi Islam udah diterapkan dalam bingkai negara, maka insya Allah nyanyian pasti akan bercitarasa Islam. Bahkan bukan cuma nyanyian, segala aspek kehidupan pasti akan berlandaskan ideologi Islam. Yakin itu.

Sobat muda muslim, yang dibutuhkan Islam saat ini adalah keseriusan dalam berdakwah menegakkan Khilafah. Jangan sampe nasyid menjadi senjata dari musuh-musuh Islam untuk melenakan kita. Karena kita menganggap bahwa dengan maraknya seni Islam, Islam akan bangkit. Nggak lha yauw! Kita harus berjuang, dan tanpa perlu menjadikan nasyid sebagai senjata utama! (nasyid mah pelengkap aja deh!). Akur dong? [hafidz]

(Buletin Studia – Edisi 218/Tahun ke-5/25 Oktober 2004)

(Dikutip dari : http://www.gaulislam.com/islam-bukan-cuma-nasyid)

Kalo Cowok ama Cewek Sohiban…

Posted in Buletin GAUL Islam, Tahun II/2008-2009 by Ahmad Jibraan on the April 13th, 2009
edisi 077/tahun ke-2 (17 Rabiul Akhir 1430 H/13 April 2009)



Senang deh rasanya kalau hidup kita dikelilingi banyak teman. Kita yang diciptain Allah Swt. sebagai manusia, yang makhluk sosial, pasti bakal jadi lonely kalau nggak ada orang yang mau nemenin perjalanan hidup kita, dengan segala suka dan dukanya, dengan semua cerita dan pengalamannya.

Kalau punya teman kan jadi ada orang yang bisa kita curhatin. Kita bisa cerita ke mereka apa yang kita rasain, yang kita pikirin. Dan sebaliknya, kita juga mesti siap untuk dijadiin tempat curhat mereka.

Untuk bisa dapet temen yang sehati dan sevisi emang nggak gampang. Pastinya nih kita kudu ngelakuin “audisi” dulu untuk bisa sampe dapet sohib yang terbaik buat kita. Kita kudu punya standar valid untuk sohib terbaik. Apa aja sih?

Pertama, mau saling menasihati dan membantu dalam kebenaran. Bahasa kerennya sih mau ber-’amar ma’ruf nahi munkar, dan yang jelas benar atau salahnya didasarkan pada ketentuan Allah Ta’ala semata. Nyari sohib yang tipe begini jaman sekarang susah-susah gampang. Yang ada kebanyakan maunya pake aturan sendiri-sendiri. Kriteria benar atau salah ya menurut kesepakatan aja. Nah, sekalinya ada sohib yang kasih saran atau nasihat dengan aturan Islam seringnya malah dibilang sok alim. “Udah deh elo nggak usah kebanyakan dalil! Hari gini masih ngomongin dalil!” Atau … “Elo tuh rese ya! Nggak bisa liat orang seneng!” Atau … “Udahlah jadi orang Islam yang biasa-biasa aja, nggak usah ekstrim kayak gitu! Dikit-dikit al Quran! Dikit-dikit syari’ah!” Phew!

Padahal sohib yang mau ikhlas amar ma’ruf nahi munkar ke kita adalah harta yang tak ternilai harganya. Sohib kayak gini yang bisa bikin selamet dunia en akhirat. Malah, seharusnya sebelum minta orang lain melakukannya buat kita, kita yang lebih dulu melakukannya buat orang lain.

Kedua, selalu mendoakan kita saat kita tidak bersamanya. Rasulullah saw. bersabda: “Doanya seorang muslim kepada saudaranya yang tidak bersamanya pasti dikabulkan. Di dekat kepalanya ada malaikat yang menjaganya. Setiap kali ia berdoa minta kebaikan untuk saudaraya, malaikat itu berkata “amin”. Dan engkau akan mendapatkan yang serupa (dengan saudaramu tadi).” (Muslim: 48-Kitab adz-Dzikr wad Du’aa’, hlm. 88)

Senengnya deh kalau kita punya sohib yang kayak gitu. Keberadaan sohib yang kayak gitu bakal bikin kita jadi orang yang paling beruntung sedunia!

Ketiga, melindungi kehormatan kita, menutupi aib kita saat kita tidak bersamanya. Rasulullah saw bersabda: “Seorang mukmin adalah cermin mukmin yang lain. Seorang mukmin adalah saudara mukmin yang lain, di mana saja dia bertemu dengannya, ia akan mencegah tindakan yang mencemari kehormatan saudaranya, dan akan melindunginya dari baliknya.” (HR Abu Dawud dan al-Bukhari, dengan isnad hasan dari Abu Hurairah)

Aman, tentram, gemah ripah loh jinawi (halah, kayak semboyan kemakmuran suatu negeri aja!!) kalo punya sohib yang kayak gini. Kita nggak jadi was-was kalau punya rahasia. Hepi, nggak makan ati.
Nah, kalau kita udah bikin standar kayak gitu, terus kita hunting ke sana ke sini eh teryata yang punya kriteria kayak gitu tuh ada di temen kita yang lawan jenis. Gimana ya? Apa iya bakal lebih baik kalo sohiban sama dia?

Para cewek bicara soal sohib cewek
Para cewek yang lebih milih cowok jadi sahabatnya biasanya karena punya pendapat atau bahkan pengalaman sahabat ceweknya tipe ember. Udah kesohor banget kalau cewek tuh, katanya, biangnya gosip. Hobi nonton acara gosip. Habis itu dengan ceria bagi-bagi gosip. Susah deh bagi rahasia ke temen cewek. Bisa-bisa seluruh aib kebongkar habis-habisan. Mendingan sohiban sama cowok aja. Cowok kan nggak ember. Kalo pun ngerumpi paling juga urusan sepakbola, otomotif, sama komputer. Jadi, aman.

Alasan lainnya, karena punya sohib cewek lebih sering main perasaan. Lebih ngeduluin emosi daripada rasio. Orang lagi panik, yang di situ butuh pikiran yang tenang, yang ada kalo sama sohib cewek situasi malah jadi lebih genting, karena dia ikutan panik. Kita lagi sedih, eh dia entar malah ikutan mewek. Kan, nggak nyelesein persoalan. Atau pas kita lagi marah, dia lebih sensi lagi. Yang ada entar malah main jambak-jambakan, cakar-cakaran, atau dendam tiada akhir. Ih, nggak deh. Mendingan juga punya sohib cowok. Beda kalo sama sohib cowok. Cowok kan tipe manusia yang ngeduluin rasio. Jadi enak untuk diajak tuker pikiran. Nggak panikan juga. Jadi ada yang bisa bikin suasana jadi calm down.

Alasan berikutnya, karena cewek itu fisiknya nggak sekuat cowok. Kalau punya sohib cowok kan ada yang ngelindungin. Kalau lagi takut ada yang ngejagain. Paling nggak nih kalau pas ke sekolah atau kuliah lagi bawa buku banyak ada yang bisa diandelin. Kalau pas ketemu sama preman ada yang ngebelain. (backsound: kalau gitu mendingan nyari kuli panggul en bodyguard pribadi aja kali ya daripada sohib hehehe…). Kalau cewek mana bisa?

Para cowok bicara soal sohib cowok
Kalau para cowok lebih milih sahabat cewek karena cewek itu lembut. Jadi, kalau lagi emosi ada yang bisa sabar ngeredam. Cowok kan biasanya main otot. Kalau cowok sohiban sama cowok bisa bermasalah. Terus belum lagi masalah logika yang juga sering jadi bahan bakar berantem. Awalnya niatnya diskusi, terus jadi debat, terus … berantem! Marah dikit gebrak meja. Marah banyak meja hancur, muka babak belur. Berabe. Mendingan punya sohib cewek. So, dengan kelembutannya, bisa bikin hati panas jadi dingin.

Alasan lainnya, karena cewek itu orangnya teliti dan tekun. Kalau punya sohib cewek ada yang ngingetin hal-hal yang detil. Catatan sekolah pasti lebih rapi, lebih enak dibaca, lebih enak dipelajari. Cewek juga biasanya rapi. Nah, kalo punya sohib cewek kan bisa bantu menilai sesuatu udah rapi atau belum, bisa kasih saran supaya rapi gimana.? Kalo sohib kita cowok juga? Aduuuh yang ada pada kayak gembel semua tampangnya. Semaunya sih habisnya.

Sohiban ama lawan jenis? Baca dulu ini…
Berbagai alasan di atas adalah alasan yang sering banget diutarakan oleh orang-orang yang akhirnya memilih lawan jenis sebagai sohib mereka. Dua kutub yang berbeda bikin cepet nyambung. Gitu konklusinya. Sumpe lo? Nggak malah complicated alias rumit?

Cari sohib atau sahabat itu nggak cuma persoalan gampang tune in satu sama lain atau nggak. Bukan hanya persoalan gampang nyambung atau nggak. Tapi sebagai muslim, ketika kita bicara tentang sosok sahabat, berarti kita bicara sosok yang bikin kita aman.

Emang mungkin aja sih ada saatnya kita ngobrol sama lawan jenis ternyata lebih nyambung, koneksinya cepet. Tapi, kalau sampai kebablasan, hubungan yang kayak gitu udah pasti nggak aman lagi untuk dijalanin.

Bukan aman dalam pengertian dilindungi dan melindungi dari penjahat, tapi aman dalam arti terhindar dari fitnah! Yang pasti sulit banget bisa menghindar kalo kita sohiban sama lawan jenis.

Mungkin masih ada yang kasih argumen: “Loh kan itu bisa-bisanya kita aja jaga diri. Jaga rasa. Kalo udah deal dari awal kita sohiban ya udah sampe situ aja. Nggak lebih!”

Bro en Sis, berapa banyak sih orang yang sok ngomong gitu tapi kejadian juga. Awalnya temenan eh terus jadi demenan. TTT alias Teman Tetap Teman jadi TTM alias Teman Tapi Mesra. Padahal udah jelaslah Allah Swt. ngatur cara gaul kita sama lawan jenis. Sebagai yang bukan mahram, nggak boleh berdua-duaan (berkhalwat), yang cowok mesti jaga pandangan.

Rasulullah saw. bersabda:“Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah tidak melakukan khalwat dengan seorang wanita yang tidak disertai dengan mahram-nya, karena sesungguhnya yang ketiganya adalah setan.” (HR Ahmad)

Allah Swt. berfirman dalam al-Quran surat an-Nur ayat 30, yang artinya: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka.”

Nah kalau sohiban nggak mungkin kan jauh-jauhan?? Kalau “rasa” alias cinta itu datang, jadinya persahabatan bukan malah bikin nyaman tapi bikin pusiiiing!

Elo masih bilang nggak mungkin ada rasa? Coba deh perhatiin beberapa pengakuan “aktivis” persahabatan lawan jenis berikut ini.

Si Stringy_life bikin pengakuan dalam sebuah forum. Dia bilang gini, dia ngalamin juga sohiban sama lawan jenis. Ada rasa? Pastinya ada, tapi sekarang gimana kita ngelola rasa itu. Ada lagi pengakuan dari orang yang berbeda di forum yang sama. Nick name-nya Erepyon. Dia bilang dia udah punya beberapa sahabat. Dan, seiring umur dan pergaulan yang nambah pengen juga nambah sahabat. Ada satu orang yang doi coba jadiin sahabat. Masalahnya orang itu lawan jenis. Belakangan dia ngerasain perasaan aneh. Dia sih berusaha mengontrolnya karena dia nggak pengen ngerusak persahabatan dia, tapi yaa… terkadang ada saatnya berat juga menahannya.

Tuh, kan. Sohiban sama lawan jenis banyak ribetnya. Ngelola “rasa” itu aja udah bikin kerjaan lagi. Dan, yang paling efektif untuk ngilangin rasa adalah dengan menurunkan level sohib jadi sekadar temen. Ya iya dong. Nggak sohiban sama lawan jenis bukan berarti kita nyari musuh. Temenan sih tetep harus. Silakan sama siapa aja. Tapi untuk sohib? Mendingan nggak usah deh.

Yang cewek sohiban sama cewek, yang cowok sohiban sama yang cowok. Itu lebih pas. Karena yang tahu detail masalah cewek dan dunianya ya cewek. Begitu juga sebaliknya.

Kalau ada sifat-sifat cewek yang ember dan hal-hal negatif lainnya, cowok juga banyak minusnya. Ada juga cowok yang rumpi. Ada juga cowok yang secara fisik emang lemah. Kalau ada yang bilang cowok itu nggak rapi, emosian, suka main otot, cewek juga ada yang gitu. Buktinya tuh Genk Nero.

Banyak kok cewek yang smart, bisa mikir taktis, nggak panikan. Ada kok cowok yang teliti banget, tekun, sabar. Artinya, setiap orang itu pasti ada kelebihan dan kekurangan, nggak lihat jenis kelaminnya apa. Allah Swt. udah tentuin masing-masing orang dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Lagipula untuk saling mengingatkan dan saling melindungi nggak perlu jadi sohib dulu. Sesama muslim kan bersaudara. Iya nggak sih?

Jadi, please deh jangan dijadiin alasan untuk cari sahabat yang ngertiin kita, yang bisa ngelengkapin hidup kita dengan kelebihan yang mereka punya, lantas kita pilih sahabat lawan jenis. Kekurangan di diri seseorang itu lazim, namanya juga manusia. Sifat buruk juga kadang menginfeksi. Manusia kan tempat ngumpulnya kekurangan dan kekhilafan. Dan, yang bisa jadi salah satu solusi adalah persahabatan yang diridhai oleh Allah Ta’ala. Persahabatan yang dijalani di atas jalan Allah. Sip kan? [nafiisah fb: http://thechamberoffriendship.co.cc]

(Dikutip dari : http://www.gaulislam.com/kalo-cowok-ama-cewek-sohiban)

Jilbab Bukan Sekadar Simbol

Posted in Buletin GAUL Islam, Tahun II/2008-2009 by Farah Zuhra on the July 13th, 2009
gaulislam edisi 090/tahun ke-2 (20 Rajab 1430 H/13 Juli 2009)



Siapa sih yang nggak tahu jilbab itu apa? Yupz…jilbab adalah baju takwa seorang muslimah. Meski banyak salah kaprah dalam memahami definisi jilbab tapi kita semua sepakat bahwa aurat muslimah itu semua bagian tubuhnya kecuali muka dan telapak tangan. Dan itu, kudu ditutup biar yang tidak berkepentingan nggak bisa lihat.

Seiring dengan gencarnya dakwah Islam di tengah masyarakat, Alhamdulillah banyak muslimah yang sadar untuk menutup aurat. Di satu pihak, hal ini kudu kita syukuri. Tapi di pihak lain, ternyata jilbab marak itu hanya sekedar trend. Parahnya, ada juga pihak yang menjadikan jilbab ini hanya sebatas simbol berupa secarik kain penutup kepala. Bahkan akhir-akhir ini banyak pro dan kontra tentang jilbab yang katanya sebagai komoditi politik golongan tertentu.

Hmm…ternyata jilbab membawa bahasan yang tak kalah serunya untuk diobrolin. Biar anti manyun, ikuti terus yuk topik tentang jilbab ini. Tarik maaang!

Jilbab=ketundukan

Inti dari Islam adalah ketundukan. Tunduk dan patuh pada Dzat Yang Maha Menciptakan dan Mengatur, termasuk dalam urusan berpakaian seorang muslimah. Dalam hal ini, Allah telah mengaturnya dalam QS an-Nur [24]: 31 dan al-Ahzab [33]: 59 (untuk isi ayat dan terjemahannya secara lengkap, silakan baca al-Quran yang kamu punya ya..).

Ketika Allah Swt. telah menetapkan satu syariat bagi manusia, maka tak ada pilihan bagi manusia tersebut untuk memilih syariat/aturan lainnya. Perintah Allah ini haruslah disambut dengan ketundukan dan keikhlasan dalam menjalankannya (nah, biar lebih mantap, penjelasan ini bisa kamu baca di al-Quran surat al-Ahzab ayat 36)

Meskipun demikian, ternyata fakta di lapangan menunjukkan bahwa berjilbabnya seseorang tidak selalu karena factor takwa. Banyak factor-faktor lain yang menyertai niat seseorang ketika ia memutuskan menutup aurat. Ada yang berjilbab karena alasan lebih simple dan nggak bingung memilih mode ketika akan bepergian. Ada juga yang mengatakan dirinya terlihat lebih cantik bila berjilbab. Bahkan ada juga yang mengatakan bahwa sudah waktunya berjilbab karena sudah berumur. Hanya anak muda saja yang pantas untuk tidak berjilbab. Waduh…kacau juga ya.

Parahnya, ada yang berjilbab karena bintang idolanya berjilbab juga. Atau istri politisi tertentu berjilbab, sehingga akhirnya hal ini jadi alasan untuk ikut pemilu dalam sistem kufur bernama demokrasi. Bahkan saat ini jilbab menjadi salah satu media untuk mempolitisir Islam.

Padahal sesungguhnya, jilbab adalah satu bentuk kecil dari ketundukan dan ketaatan seorang hamba kepada Khaliknya. Sedangkan bentuk ketaatan lainnya masih sangat banyak yaitu dalam semua aspek kehidupan. Termasuk juga dalam menyalurkan aspirasi politik, umat Islam kudu taat pada aturan Allah Ta’ala secara mutlak. Tidak boleh hanya karena simbol jilbab terus jadi ikut-ikutan berpesta demokrasi yang jelas-jelas menjadikan manusia sebagai berhala. Yang bersimbol jilbab aja nggak boleh, apalagi bagi yang tidak berjilbab. Ini masalah prinsip Bung! Bukan sekadar ikut-ikutan aja karena setiap amal pastilah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.

Jilbab dan politik

Di tengah suhu Indonesia yang panas dengan gempita pemilu, jilbab menjadi ramai diperbincangkan. Ada pro dan kontra menyikapi soal jilbab ini. Ada yang bersuara keras agar jilbab tidak dikaitkan dengan kepentingan politik apa pun. Agama terlalu suci untuk dilibatkan dengan politik yang kotor, itu alasannya. Tapi di sisi lain, ada juga pihak yang tersepona, eh, terpesona karena ada sosok tertentu yang berjilbab sehingga menganggapnya lebih islami.

Agar kamu nggak bingung, yuk kita dudukkan masalah jilbab dan politik ini di tempat semestinya. Pertama, kamu kudu paham dulu makna politik. Dalam Islam, politik adalah riayatus-syu’unil ummah, yaitu mengurusi urusan umat dengan satu sistem tertentu yaitu Islam. Yang namanya urusan umat, itu bukan tentang jilbab saja. Tapi sejak mulai bangun tidur hingga tidur lagi termasuk juga dalam mengelola perekonomian, pendidikan, pidana, perdata dsb, itu juga bagian dari urusan umat.

Islam tidak mengenal sekularisme atau pemisahan agama dari kehidupan. Sebaliknya, Islam adalah the way of life plus ideologi yang kudu ada pada diri seseorang yang mengaku dirinya muslim. Karena tak ada sekulerisme, maka politik pun menjadi bagian dari Islam. Ketika kamu sadar sebagai muslimah kudu berjilbab, maka saat itulah kamu mempunyai kesadaran politik yang bagus. See…ternyata makna politik tidak sesempit yang kamu kira sebelumnya.

Politik tidak melulu bermakna kekuasaan. Tapi kekuasaan diperlukan untuk menegakkan agama termasuk salah satunya adalah berjilbab. Mungkin kamu nggak pernah ngalami yang namanya berjilbab diusir dari sekolah negeri. Itu karena saat itu peraturan pemerintah melarang pemakaian jilbab di lingkungan akademis. Walhasil, yang namanya muslimah berjilbab diseret dan diusir dari kelas menjadi hal yang lazim sekaligus mengenaskan. Saya pun pernah diintimidasi aparat hanya karena menolak foto KTP dan SIM yang memperlihatkan telinga.

Dari cerita di atas, jelas banget kan kalo ternyata kebijakan politik yang pro syariah itu sangat dibutuhkan. Dan syariah ini nggak akan mungkin kaaffah (keseluruhan) dilaksanakan dalam sistem yang bernama demokrasi. Karena hakikat demokrasi ini adalah suara terbanyak tak peduli halal dan haram. Jadi kalo mayoritas bilang jilbab haram, maka sah saja negara bilang jilbab haram. Begitu sebaliknya, bila pelacuran dikatakan halal karena ada maslahat di sana yaitu pajak bagi negara, maka demokrasi pun mengesahkannya.

Intinya, syariah Islam nggak bakal bisa sempurna penerapannya dalam sistem kufur bernama demokrasi. Syariah hanya bisa tegak dalam sebuah sistem yang memang sudah ada tuntunannya dalam Islam yaitu Khilafah Islamiyah. Inilah sebuah kepemimpinan umum kaum muslimin sedunia tanpa ada sekat-sekat bernama nasionalisme.

Jilbab= simbol?

Ngomongin jilbab ternyata tidak sederhana ya? Bukan melulu selembar kain penutup kepala yang saat ini lagi trend dipakai perempuan. Aturan jilbab diturunkan bukan tanpa maksud. Di dalam QS al-Ahzab ayat 59, Allah Swt. menyatakan bahwa agar para muslimah itu mudah dikenali dan tidak diganggu. Para munafiqun biasanya berdalih, bahwa hukum berjilbab tidak lagi wajib apabila muslimah tidak lagi mendapat gangguan. Nah…lho… (ngarang deh lo!)

Di posisi inilah keimanan seorang muslim teruji. Dalam melaksanakan syariat, bukan manfaat yang kita kejar. Tapi harus murni karena taat dan tunduk pada Allah semata. Apabila ada manfaat di dalamnya, itu hanya efek samping dan bukan tujuan utama. Yakinlah, bahwa syariat yang berasal dari Allah Ta’ala itu pasti membawa manfaat bagi manusia. Hanya karena kelemahan dan kebodohan manusia saja, yang seringkali kita ini belum mampu menyibak makna di balik perintah dan larangan Allah.

Jilbab memang sebuah simbol, bahwa seseorang yang memakainya adalah perempuan muslim. Jilbab adalah simbol bahwa muslimah yang memakainya itu (seharusnya) berbeda daripada yang tidak memakai. Aneh banget bila berjilbab tapi masih suka boncengan sama cowok non mahrom. Berjilbab tapi mojok berduaan dan beraktivitas mesum, nauzhubillah. Jilbab sebagai simbol baju takwa seorang muslimah menjadi runtuh. Sehingga tak heran banyak suara nyinyir yang mengatakan ‘lebih baik nggak usah berjilbab kalo kelakuan masih bejat.’

Wah….ini yang sering salah kaprah. Kalo ada cewek berjilbab yang tingkah lakunya nggak senonoh, bukan jilbabnya yang salah. Tapi pribadi cewek tersebut yang kudu dibenerin. Jangan malah, udah nggak berjilbab, kelakuan rusak lagi. Watau, naudzhubillah. Jangan mau jadi tipe yang ini. Harusnya tuh, berjilbab dan sholihah, itu cermin diri muslimah yang sebenarnya.

Nah, bagi yang berjilbab tapi masih norak, juga kudu nyadar bahwa jilbab yang tersandang itu mempunyai konsekuensi tertentu pula. Jadi udah nggak bisa seenaknya sendiri ketawa ngakak di depan umum, terus runtang-runtung sama cowok non mahrom. Jangan deh.

Jilbab memang simbol tapi esensinya juga kudu harus dipahami. Jilbab adalah tabir bagi muslimah dari berbuat maksiat dan dosa. Jilbab adalah sebuah identitas diri bahwa pemakainya juga harus sesuai dengan apa yang dipakainya. Jilbab adalah satu langkah awal untuk siap menerima aturan-aturan Allah lainnya termasuk dalam hal pergaulan, batasan dengan lawan jenis, serta interaksi lainnya.

Jilbaber pejuang

Jilbab adalah wajib bagi yang merasa dan mengaku dirinya perempuan muslim. Jilbab memang terkait erat dengan politik tapi dalam makna yang benar. Meskipun terkait erat dengan politik, tidak berarti bahwa seseorang yang sudah berjilbab maka sudah tentu ia setuju dan memperjuangkan diterapkannya syariah. Dalam hal ini, sebagai muslimah kamu kudu kritis dan selektif. Jangan mau diperdaya oleh petinggi-petinggi partai yang berkoalisi demi empuknya kursi kekuasaan namun menjual idealisme penegakan syariat Islam.

Terkait dengan hasil pemilu yang baru saja berlalu, siapa pun pemenangnya, berjilbab atau pun tidak istri para pemimpin tersebut, tetap hukum kufur aturannya. Jadi, nggak usah terlalu gembira deh hanya karena partai islam tertentu berkoalisi dengan pemimpin yang menang tersebut. Toh…keadaan tidak akan pernah berubah karena syariat masih saja dianggap tidak perlu untuk ditegakkan.

Sistem demokrasi, berhala manusia saat ini, masih saja tampil sebagai pemenang. Hal ini tak ada kaitannya dengan kemenangan partai Islam tertentu, apalagi kemenangan hasil koalisi dengan partai sekular. Jilbab benar-benar dianggap hanya sekadar selembar kain yang tak mempunyai makna apa-apa. Naudzubillah. Bila kepentingan duniawi telah mengalahkan cita-cita mulia partai dakwah, maka tunggu saja ketika Allah akan memberikan keputusanNya.

So, para muslimah, WAKE UP! Di balik jilbab yang kamu kenakan ada tanggung jawab besar untuk membuat perubahan. Jangan mau terpedaya oleh slogan palsu yang mengatasnakaman Islam. Gimana supaya tak gampang terpedaya? Belajar Islam yang kaafaah sebagai sistem kehidupan yang utuh, bukan sepotong-sepotong. Bagaimana pun, harga sebuah idealisme harusnya lebih mahal daripada kepentingan bagi-bagi kursi dalam pemerintahan yang tidak islami. Cita-cita diterapkannya syariat Islam nggak boleh luntur secuil pun dari perjuanganmu. Dan syariah Islam ini nggak mungkin bisa diterapkan kecuali dalam sebuah sistem bernama Khilafah Islamiyah.

Jilbaber, ayo berjuang bersama. Bagi yang belum berjilbab, ayo mulai saat ini tanamkan tekad untuk memulai sebuah perubahan dalam dirimu. Di mana pun kamu berada dan bergerak, samakan langkah agar tujuan lebih mudah teraih, insya Allah. Karena sungguh tak ada kemuliaan kecuali dengan Islam, tak ada Islam tanpa syariah, tak ada syariah kecuali dalam naungan daulah Khilafah Islamiyah. Semangat! [ria: riafariana@yahoo.com]

(Dikutip dari : http://www.gaulislam.com/jilbab-bukan-sekadar-simbol)

Pacaran? Nggak, Ah!

Posted in Buletin GAUL Islam, Tahun II/2008-2009 by Hasna Hawwa on the July 20th, 2009
gaulislam edisi 091/tahun ke-2 (27 Rajab 1430 H/20 Juli 2009)



Hmm.. dari judulnya aja udah pastinya seru dibahas nih, apalagi kalo udah ngomongin cinta-cintaan nggak bakalan ada habisnya buat dibahas. Dari jaman baheula sampe sekarang yang namanya cinta selalu seru untuk diobrolin. Lihat deh acara-acara di tivi kebanyakan tentang percintaan. Nggak ketinggalan majalah remaja, tabloid, novel, sinetron, film layar lebar sampai reality show semua isinya percintaan. Kalo masih kurang lagu-lagu anak band sekarang tidak jauh dari lirik-lirik cinta. So, nilai jual cinta nggak bakalan turun (jiaaah, cinta kok dijual?). Termasuk tulisan ini juga akan membahas tema yang sama. Tapi sudut pandangnya Islam, karena saya seorang muslim.

Bro en Sis, cinta itu anugerah. Dateng gitu aja, tiba-tiba muncul tanpa diundang (dah kayak jalangkung!). Nggak peduli tua atau muda, cantik atau jelek, ganteng atau tampan (loh? Curang nih cow) love doesn’t know difference deh. Contoh cowok kalo udah suka sama cewe, bisa lupa segalanya, mulai dari ngelamun, ketawa sendiri (cinta gila kali ya?) sampe rela ngelakuin apa aja demi ceweknya. Padahal bisa aja dimanfaatin, aji mumpung jalan kemana aja dibayarin, dari makan sampai nonton. Ini cewek matre atau sekadar numpang makan (ngirit banget lo!). Atau mungkin dia punya prinsip “seefesien mungkin”. Kalo ada yang gratisan kenapa nggak? Pletak!

Wadooh, yang ceweknya nggak pada empati tuh, kali aja si cowok udah mati-matian nabung sebulan penuh, sampe hutang kanan-kiri juga kali ya? (nah loh ada yang kesendir tuh ya? Hehe…) Tapi kalo sampe para cewek dituduh matre or numpang makan doang, kayaknya cewek-cewek pada nggak setuju nih. But, tenang Sis. Nggak semua cewe kayak gitu kok (Jiaaah, pembelaan ini cuma contoh takutnya gue dicakar-cakar sama cewek-cewek, peace).

Eh, ada yang protes nggak kalo masalah pacaran dikaitkan dengan Islam? Biasanya kalo protes itu mikirnya gini: “Yang penting kan ibadahnya? Ngapain kudu disangkut-pautkan dengan Islam. Pacaran aja selama itu nggak ganggu orang lain dan nggak sampe berzina”. Hmm…

Bro, Islam udah ngasih aturan yang jelas, harusnya kita bisa menerima Islam dengan sepenuhnya, bukan cuma sebatas ritualnya aja atau dijadikan formalitas aja. Aturannya menyangkut semua hal, mulai dari aturan negara sampai aturan untuk individu. Jangan sampe di antara kamu ada yang rajin ngaji, sholat juga nggak ketinggalan, tapi maksiat tetep jalan. Hadduch.. STMJ tuh mah (Sholat Terus Maksiat Jalan). Sholat sih sholat, tapi soal maming alias Malam Mingguan kamu ngerasa wajib untuk hadir ke rumah pacar kamu. Niat ngapel sambil pamit sama ortu si pacar, mau ngajak jalan-jalan cari udara segar (cari aja oksigen di rumah sakit, lagi bengek kali tuh!). Intinya supaya bisa berdua aja.

Oya, ada juga tuh temen kita yang beralibi alais ngasih alasan bahwa pacaran yang mereka lakukan itu islami. Mereka sepakat putus sementara kalo datang bulan Ramadahn. Nanti abis Ramadhan disambung lagi (waduuuh, ngarep banget ya buat melegalkan pacaran?). Kalo gitu ngerampok secara islami ada juga kali ya, cuma ngerampok orang kaya yang pelit en pejabat korup (dah kayak Robin Hood dong? Asal deh lo!).

Gaul cara Islam

Bro en Sis, Allah Swt. udah berfirman (yang artinya):“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS al-Isra [17]: 32)

Tuh, bukan cuma zinanya aja yang haram, tapi mendekati zina saja sudah dilarang. Pacaran identik dengan berkumpul antara lawan jenis. Istilahnya berkhalwat dengan yang bukan mahrammnya, dalam Islam tentu diharamkan karena bisa menjerumus ke dalam kemaksiatan en yang lebih parah berzina. Kalo mau plesetin omongannya Bang Napi jaman dulu (masih pada inget kan?). Yup, Bang Samsi (eh, Bang Napi) bilang: “Inget, kemaksiatan bukan hanya karena ada niat si pelaku, tapi juga karena ada kesempatan.” Bener banget. Kalo udah berudua-duaan yang ketiganya adalah setan. Hati-hati kalo sampe satpol PP juga ikut pantau. Kegiatan kamu bakalan diintip dan didiemin dulu biar ketangkep basah (nah loh pengalaman sapa tuch?) Soalnya, kalo udah terpancing sama hawa nafsu setan, gampang banget tuh ngegodainya, istilahnya tinggal tunggu jam tayang (dah kayak nonton bioskop aja tuh).

Bro, sebelum sampe berdua-duaan dengan lawan jenis, di awal-awal hubungan dengan lawan jenis udah diatur dengan baik lho dalam Islam. Supaya kejadian maksiat itu bisa dicegah karena peluangnya diminimalisir. Allah Swt. udah berfirman (yang artinya): “Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki: ‘Hendaklah mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya ….’ Dan katakanlah kepada orang-orang mukmin perempuan: ‘Hendaknya mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya…’.” (QS an-Nuur [24]: 30–31)

So, menundukkan pandangan adalah menjaga pandangan. Nggak dilepas gitu aja tanpa kendali yang memungkinkan bakal merasakan kelezatan atas birahinya kepada lawan jenisnya yang beraksi. Pandangan bisa dibilang terpelihara jika secara tidak sengaja melihat lawan jenis kemudian menahan untuk tidak berusaha melihat mengulangi melihat lagi atau mengamat-amati kecantikannya atau kegantengannya.

Ath-Thabarani meriwayatkan, Nabi saw. bersabda yang artinya, “Awaslah kamu dari bersendirian dengan wanita, demi Allah yang jiwaku di tanganNya, tiada seorang lelaki yang bersendirian (bersembunyian) dengan wanita malainkan dimasuki oleh setan antara keduanya. Dan, seorang yang berdesakkan dengan babi yang berlumuran lumpur yang basi lebih baik daripada bersentuhan bahu dengan bahu wanita yang tidak halal baginya.”

Juga dalam hadis yang lain. Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda yang artinya, “Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu (bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina. Dan kesemuanya itu akan dibenarkan atau diingkari oleh alat kelamin.” (Hadis sahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibn Abbas dan Abu Hurairah).

Yang terendah adalah zina hati dengan bernikmat-nikmat karena getaran jiwa yang dekat dengannya, zina mata dengan merasakan sedap memandangnya dan lebih jauh terjerumus ke zina badan dengan, saling bersentuhan, berpegangan, berpelukan, berciuman, dan seterusnya hingga terjadilah persetubuhan. Ati-ati! Waspadalah!

Bor en Sis, dalam Islam nggak ada istilah pacaran, karena pada dasarnya aturan pergaulan dalam Islam adalah infishol alias “terpisah” dalam arti begini: cowok atau cewek hanya bergaul akrab dengan sejenisnya atau para mahram. Berhubungan dengan lawan jenis hanya masalah mu’amalah (bisnis, seperti di pasar antara penjual dan pembeli), pendidikan (seperti antara guru dengan murid atau dosen sama mahasiswanya) juga dalam masalah kesehatan (konsultasi dokter dengan pasiennya dan sejenisnya). Yang semuanya harus tetap sayr’i.

Soal tempat khusus dan tempat umum

Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat. Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, Maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja)lah, Maka hendaklah kamu kembali. itu bersih bagimu dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS an-Nuur [24]: 27-28)

Bro en Sis, kamu perlu tahu nih tempat atau kondisi yang berkenaan dengan pergaulan antara cowok dan cewek yang bukan mahram.

Pertama, tempat yang kita tidak memerlukan izin pada saat masuk/melihat (contoh :lapangan, rumah sakit, Pasar, dll). Kedua, tempat khusus (tempat yang jika kita ingin masuk atau melihat maka diwajibkan untuk meminta izin, contoh: kamar mandi rumah, mobil pribadi, ruangan pribadi dan sejenisnya).

Terus nih, yang harus diperhatikan dalam pergaulan adalah soal istilah: Pertama, ij’tima, yakni berkumpul, tapi tidak ada interaksi. Kedua, a’laqoh, yakni interaksi, tapi nggak berkumpul (contohnya telepon, chatting online, SMS-an, kirim-kirim e-mail dan sejenisnya). Ketiga, ikhtilat, yakni berkumpul dan beriteraksi (dan yang dibolehkan bagi yang bukan mahram adalah hanya dalam masalah mu’amalat, pendidikan, dan kesehatan)

Oya, saya mau cerita dikit. Pernah tuh saya beda pendapat mengenai status hukum pacaran sama temen sendiri. Saya nggak setuju pacaran, bukan karena saya nggak laku buat pacaran, tapi karena banyak yang nolak sih hehe… (nggak ding, emang saya udah tahu hukumnya pacaran nggak boleh menurut ajaran Islam). Saya menolak pacaran bukan juga untuk nyuruh dia putus sama pacarnya, cuma pengen ngajak berfikir aja. Sampe pada klimaksnya dia bilang ke saya: “Kalo gaya hidup kamu kayak gitu mending nggak usah hidup di Indonesia aja!” Wadduh…. nggak nyangka temen saya ngomong begitu. sampe akhirnya gue jawab “Sory friend, aku hidup di bumi Allah Swt. Kalo kamu nggak setuju sama aturan Allah mending pergi aja dari bumi Allah”. Halah, saya spontan komen gitu. Sempet terfikir itu emosi saya yang menjawab kali ye? Tapi ya udahlah. So, saya udah mencoba untuk tegas walaupun saya masih belajar dalam mentaati semua aturan Islam.

Pacaran nggak cuma mereka yang masih bujangan dan gadis aja, tapi dari usia akil balig sampai kakek nenek bisa berbuat seperti yang diancam oleh hukuman Allah. Hanya saja, yang umum kelihatan melakukan pacaran adalah para remaja. Betul apa bener?

Islam ngatur hubungan antar lawan jenis

Oya, bukan berarti nggak ada solusi dalam Islam untuk berhubungan dengan nonmahram. Dalam Islam hubungan nonmahram ini diakomodasi dalam lembaga perkawinan melalui sistem khitbah/lamaran dan pernikahan. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya): “Hai golongan pemuda, siapa di antara kamu yang mampu untuk menikah, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih memelihara kemaluan. Tetapi, siapa yang tidak mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat mengurangi syahwat.” (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan Darami)

Selain hal tersebut di atas, baik itu hubungan teman, pergaulan laki-laki perempuan tanpa perasaan, ataupun hubungan profesional, ataupun pacaran, ataupun pergaulan guru dan murid, bahkan pergaulan antar-tetangga yang melanggar aturan di atas adalah haram, meskipun Islam tidak mengingkari adanya rasa suka atau bahkan cinta.

Bro en sis, bahkan diperbolehkan suka kepada laki-laki/perempuan yang bukan mahram, tetapi kita diharamkan mengadakan hubungan terbuka dengan nonmahram tanpa mematuhi aturan di atas. Kalau masih pengen juga, kamu kudu ditemani kakak laki-laki ataupun mahram laki-laki kamu dan kamu harus menutup auart masing-masing agar memenuhi aturan yang telah ditetapkan Islam. Tapi ini bukan dalam rangka pacaran, lho. Ya, sekadar bertemu untuk pendidikan atau dakwah, muamalah dan kesehatan. Oke?

Percayalah, jodoh itu Allah Ta’ala yang ngatur. Nggak usah maksain sampe pacaran segala. Ada cerita nih, dari guru ngaji gue sih (minta izin ngutip ya pak.. hehe). Jadi ada cowok-cewek yang udah kepalang pacaran en cinta banget. Ketika mereka dalam pengajian, dibahas tuh masalah pacaran kayak gini. Singkat cerita mereka putus, “demi Islam kita putus aja yach…” katanya. Wah dilema banget emang ya? (cinta deritanya tiada akhir.. hwaach dasar Patkai).

Emang berat en nggak gampang tuh ambil keputusan habis udah cinta mati. Sampe semboyannya aja: “I love you teu eureun-eureun” (gotong royong aja kali ya biar nggak berat). Tapi kemudian mereka iklhas menerima keputusannya. Berlanjut sampe mereka dewasa. Atas ijin Allah mereka dipertemukan kembali, karena ortunya udah saling kenal juga, akhirnya mereka menikah. Wah…wah pastinya bahagia banget mereka. Gimana Bro, mau, mau mau? Kalo udah siap jangan tunggu lama-lama buat ngehindar dari maksiat en fitnah lanjutkan ke pernikahan (lebih cepat lebih baik, kita mah pro syariat Islam!).

BTW, tapi kan nggak segampang yang saya omongin ya? Kata Bang Thufail al-Ghifari sih “nikah itu Jihad yang aduhai” (cit..cwiw!). So, bukankah kalo pengen serius jalin hubungan, emang tujuannya menikah? (loh kok jadi ngomongin nikah? Curhatan saya nih kayaknya. Watau!)

Bukti cinta sejati

Bro en Sis, Rasulullah saw. pernah bersabda (yang artinya): “Bukti cinta sejati itu ada tiga, yaitu: memilih kalam kekasihnya (al-Qu’an) daripada kalam lainNya (hasil produk manusia); memilih bergaul dengan kekasihNya daripada bergaul dengan yang lain; memilih keridhaan kekasihNya daripada keridhaan yang lain.”

Demikian ini karena orang yang mencintai sesuatu itu, ia menjadi hambanya. Yahya bin Mu’adz berhubungan dengan pengertian ini mengatakan: “Setitik benih cinta kepada Allah lebih aku sukai daripada pahala mengerjakan ibadah tujuh puluh tahun.”

Nah, kalo virus merah jambu mulai meradang di hatimu, cuma ada satu solusi jitu: merit binti kawin alias nikah. Nggak apa-apa kok masih muda juga asal udah mantap mentalnya, kuat ilmunya, dan cukup materinya. Tapi kalo ngerasa belum mampu, ya wis kamu kudu rajin-rajin berpuasa untuk meredam gejolak nafsumu. Dan tentunya sambil terus belajar, mengasah kemampuan, dan mengenali Islam lebih dalam, jangan lupa perbanyak kegiatan positif: ngaji dan olahraga, misalnya. Main gim? Halah, bolehlah asal jangan kebablasan! Tapi, daripada main gim mending baca al-Quran atau nulis kayak saya nih di buletin gaulislam. Insya Allah lebih oke. Sip kan?

Bro en Sis, hidup di dunia yang singkat ini kita siapkan untuk memperoleh kemenangan di hari akhirat kelak. Itu sebabnya, yuk kita mulai hidup ini dengan bersungguh-sungguh dan jangan bermain-main. Kita berusaha dan berdoa mengharap pertolongan Allah Swt. agar diberi kekuatan untuk menjalankan segala perintah dan meninggalkan segala laranganNya. Moga kita sukses di dunia dan di akhirat ya. Mau? Mau doooong! Semoga Allah menolong kita, amin. Jadi, tetep mau pacaran? Nggak, Ah! [Samsi: http://saidansam.wordpress.com]

(Dikutip dari : http://www.gaulislam.com/pacaran-nggak-ah)

Kalo Cewek Ngeblog…

Posted in Buletin GAUL Islam, Tahun II/2008-2009 by Hasna Hawwa on the October 19th, 2009
logo-gi-3 gaulislam edisi 104/tahun ke-2 (30 Syawal 1430 H/19 Oktober 2009)


Hari gini siapa yang kenal blog? Buat para netter sejati, blog pastinya udah jadi pemandangan yang nggak asing lagi, walaupun nggak semua sih kalo netters itu blogger juga. Nah, ternyata di antara para blogger itu banyak juga lho dari kalangan cewek. Kini, dengan berbagai ragam penampilan dan isi blog, mereka meramaikan dunia maya. Hmmm … kayak apa ya kalo para cewek ngeblog? Isinya kira-kira tentang apa aja ya? Intip aaaah…

Isi blog cewek

Diary. Blog macam gini banyak nampang di dunia virtual. Isinya tentang curhatan hati pemlik blognya. Kejadian-kejadian lucu, sedih, bahagia, ngebetein, bikin ill feel semua numplek di blog macam gini. Biasanya nih kejadian-kejadian yang beragam rasa itu ada hubungannya sama gebetan, temen-temen di sekolah atau kuliah or di tempat kerja, sohib-sohibnya, tempat belanja, fashion, penampilan, liburan, ortu, keluarga, dan seabrek cuhatan lainnya. Nggak lupa juga yang punya jiwa narsis bisa leluasa pasang foto-foto diri dengan gaya yang bebas ekspresi. He..he…

Nah, kalo yang punya blognya adalah cewek nih bahasa berkisahnya bisa dalem banget. Kadang suka agak-agak centil. Dan, kabar-kabarinya nih dengan gaya cewek kayak gitu traffic kunjungan ke blog bisa tinggi. Maka, nggak heran ada blogger cowok yang bikin blog dengan gaya cewek, dan pastinya namanya juga pake nama samaran yang cewek. Ckckck….

Kuliner. Blog tipe kayak gini emang nggak semuanya dibikin sama cewek, tapi sebagian besar emang iya. Di blog kayak gini biasanya pengunjung bisa dapetin banyak resep makanan, mulai dari masakan sayur, lauk-pauk, kue, minuman, en lain-lain. Ada yang resep lokal. Ada juga yang impor. Eh, ada juga lho blogger kuliner yang menyediakan info tempat jajan yang beragam level, dari yang pinggir jalan sampai yang restoran mahal. Dateng ke blog beginian bisa bikin laper! Jiahahah..

Hobi. Para bloggers tipe gini bisa jadi rujukan buat para netter yang hobinya sama. Nah, kalo cewek biasanya ngulik hobi yang terkait dengan beragam koleksi: koleksi perangko, parfum, novel, dan sebagainya. Ada juga isinya tentang hewan peliharaan. Segala pernik cerita terkait Si Peliharaan dimuat di blog. Atau tentang … hobi belanja! Cewek banget nggak sih? (backsound: Nggak gua tuh! Hehehe…). Sssttt … gara-gara hobi belanja terus kasih info tempat belanja, harga barang pasaran sampe yang branded bisa bikin seorang blogger jadi seorang konsultan. Bisa gratisan sampe yang dibayar. Menggiurkan? Kalo cuma mikir duitnya doang sih emang, tapi kalo mikir lebih jauh tentang orang-orang yang dibawa ke ajang konsumerisme akut en kronis sih mending nggak lha yaw!

Jualan. Nih blogger yang emang business-oriented banget. Cocok buat cewek yang pengen ngejalanin bisnis dari rumah. Sah-sah aja kok ngejadiin blog untuk sarana dagang. Asal yang dijual bukan yang diharamkan dan jualannya nggak pake curang. Bisnis kan taruhannya kepercayaan. Akad jual-beli juga mesti diperhatiin walaupun di alam maya. Sebagai muslimah, tentunya gimana Islam ngatur soal kayak gitu itu mestinya jadi sandaran.

Idola. Wah, kalo blog jenis ini sih bertebaran. Ada yang emang bikin blog khusus untuk didedikasikan buat Sang Idola atau yang integrated (ceileeeh bahasanya tuh!) sama blog diary. Mulai dari seleb lokal, interlokal sampai internasional bisa banyak dicari. Isinya dari mulai data pribadi, foto dengan berbagai pose, agenda kegiatan, sampai berita terkini Si Idola. Wuih! Rajin banget ya? Semoga semangat pengen tahu tentang Islam juga tetap membara dong ya.

Yang jadi problem

Sebenarnya sih nggak ada larangan buat cewek ngeblog. Tapi, yang mesti diperhatiin lebih adalah apakah isi blognya itu bermanfaat buat orang lain atau nggak, atau malah bikin yang lain nggak sadar bikin kesalahan juga. Eh, ada yang nimpalin tuh. “Blog gua selalu gua pastiin bisa kasih manfaat buat orang lain kok. Para pengunjung bisa dapetin segala hal tentang Si Seleb X.”

Nah, lho. Urusan idola dan mengidolakan–en kayaknya juga udah sering dibahas di gaulislam—ada aturan bakunya dalam Islam. Kita dilarang keras untuk “menuhankan” manusia. Mungkin ada yang yang protes kalo nggak sampe segitunya juga kok ngidolain Si Doi. Biasa-biasa aja kok. Tapi, yang namanya mengidolakan nggak ada yang biasa-biasa aja kalleee, Sis. Faktanya nih kalo udah mengidolakan sesorang kita seringkali lupa diri. Histeria di sana-sini. Atau yang paling ‘ringan’ nih, bisa melalaikan kita dari mempelajari sosok manusia yang seharusnya en wajib kita pelajari yaitu Rasulullah saw. Kalo udah gitu kan nggak bener banget deh.

Cerita soal pacar, mantan pacar, calon pacar, itu juga jadi persoalan lain di blog. Hubungan cinta mesra antara lawan jenis nggak semestinya diumbar di media publik. Blog gimanapun kan area umum. Plus, pacarannya itu sendiri kan udah jelas ada hukumnya. Dalam kamus muslimah nggak bakalan pernah ada kalo pacaran iu halal. Iya nggak sih?

Bikin blog soal shopping juga nggak jadi masalah selama itu nggak bikin kita jadi “penjerat” orang lain ke kubangan konsumerisme. Okelah para pengunjung blog kita itu orang berduit semua, en mampu untuk beli apapun yang mereka liat di blog kita. Tapi kan sayang banget kalo duit segitu banyak cuma untuk belanja doang. Jangan boros ya. Rugi banget lho.

Ada juga yang blogger cewek (paling nggak dari nama blog-nya keliatan blog cewek) isi blognya lebih naudzubillahi min dzalik. Error abis! Kisah hot alias porno bisa vulgar ditampilin di sini. Maksudnya apa seeeh? Udah bikin blognya dosa, bikin orang lain ikut dosa. Makin numpuk aja tuh dosa. Iiiih nggak banget deh ah!

Blog sehat buat para muslimah

Keberadaan blog nggak bisa dihindari di jaman millennium kayak sekarang. Fenomena blog udah merambah jadi bagian kehidupan. Tapi, bukan berarti kan buat kita-kita yang muslimah jadi ikutan latah bikin blog tanpa mikir tujuan dan untuk siapa aja blog itu entar kita buat.

Bro en Sis, kamu perlu tahu bahwa dalam Islam sebelum kita berbuat harus tahu status hukum perbutan yang akan kita lakukan. Sebagaimana dalam kaidah syara (yang artinya): “Asal dari perbuatan (selalu) terikat dengan hukum syara”. Ini artinya, apa yang kita lakukan ada konsekuensi hukumnya. Maka, pastikan bahwa yang dilakukan itu benar menurut tuntunan syariat Islam. Ok?

Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS al-Hasyr [59]: 7)

Nah, berdasarkan kaidah hukum syara dan dalil al-Quran di atas, maka bikin blog jadinya nggak bisa semaunya sendiri. Kita mesti pastiin kalo blog yang kita bikin adalah blog yang sehat alias blog yang aman untuk diakses orang banyak. Aman dalam batasan hukum syara’ pastinya.

So, kalo mau ditegesin lagi blog yang sehat itu punya syarat sebagai berikut:

Pertama, isi dan desain tidak bertentangan dengan syari’at. Untuk bisa mastiin isi sampe desain blog (jangan sampe ada gambar yang nggak sesuai dengan Islam) bener-bener sehat, nggak bertentangan dengan syari’at. Sebagai blogger, kamu kudu punya pengetahuan tentang Islam. Ya iya dong. Pengetahuan yang cukup tentang Islam bakal bisa bikin blogger punya panduan yang memadai untuk memilih mana yang boleh ditulis dan mana yang nggak boleh ditulis dan disebarkan.

Kedua, mencerahkan pengunjung blog. Blog yang sehat adalah blog yang bisa memberikan inspirasi kebaikan kepada para pengunjungnya. Misalnya nih: pengunjung yang sebelumnya nggak ngeh tentang wajibnya menutup aurat buat seorang muslimah jadi tergerak untuk segera menutup aurat setelah mampir ke blog kita, atau jadi cewek yang mau lebih peduli sama lingkungannya gara-gara baca postingan kita.

Itu dua syarat pokok kalo kita pengen punya blog yang sehat. Kalo pengen poin plus-plusnya juga, kita bisa dapetin dari desain blog yang dibikin sekeren mungkin. Untuk bisa seperti itu emang ada pengetahuan lain yang mesti kita punya, seperti pengetahuan kita tentang CSS (Cascading Style Sheet), flash, java script, HTML, XHTML, dan lain-lain. Tapi, kalaupun nggak jangan juga jadi berkecil hati. Sekarang blog gratisan pun menyediakan template lay out yang bagus-bagus kok.

Blogger muslimah kudu tangguh dan cerdas

Muslimah adalah elemen penting kebangkitan umat. Kalo kita ngomongin umat tentunya bukan cuma yang di Indonesia aja tapi juga yang di belahan dunia lainnya. Saat ini umat Islam dalam kondisi di titik nadir: dijajah secara fisik juga kekayaan alam. Lebih miris lagi tidak semua umat Islam menyadari keterpurukan tersebut. Itu karena cara pandang sebagian umat telah berhasil dialihkan secara halus oleh para penjajah. Umat Islam menjadi umat yang cinta dunia dan takut mati.

Nah, siapa lagi yang mau membangkitkan umat Islam kembali menjadi khoiru ummah (sebaik-baik umat) kalau bukan umat Islam yang telah sadar? Dan siapakah bagian dari umat Islam yang telah sadar itu? Salah satu bagiannya ya muslimah. Caranya? Berdakwah pastinya dong ya. Menunjukkan yang haq itu haq (benar itu benar), dan yang bathil itu bathil (salah itu salah). Dakwah, seperti yang ditunjukkan oleh suri teladan kita semua, Rasulullah saw. yang membuat orang akhirnya menyadari sepenuhnya hakikat penciptaan dirinya sehingga muncul kerelaan untuk diatur hanya oleh aturan Allah Swt.

Sobat muda muslim, cara berdakwah bisa beragam. Salah satunya bisa melalui blog. Nah, blogger muslimah kudu punya persiapan yang mantap untuk bisa menghadirkan pencerahan di blognya. Apa aja ya?

Pertama, selalu update pengetahuan Islam. Blogger muslimah emang kudu ngaji. Selain emang udah jadi kewajiban, ini modal paling penting untuk jadi blogger yang cerdas. Nggak ngaji ya siap-siap aja jadi blogger yang bisanya cuma ngikut tren doang.

Kedua, selalu bertekad untuk berbagi ilmu, pemikiran, dan perasaan sesuai dengan Islam. Udah ngaji tapi cuma buat kebaikan sendiri sih nggak bisa masuk kualifikasi. Blogger muslimah kudu mau sharing ilmu ke semua orang. Baik ilmu Islam maupun ilmu pengetahuan, juga keahlian yang dimiliki, yang dinilai bisa membuat oang lain pun jadi berdaya.

Ketiga, selalu mengasah daya kritis terhadap suatu fakta sehingga bisa kasih solusi. Blogger muslimah kudu mau baca en mengamati fakta. Dia kudu jadi orang yang peduli sama sekitarnya. Untuk syarat yang ini, nggak bakal ada deh blogger muslimah yang nyaman menyendiri di kamarnya berhadapan dengan komputer atau laptop yang tersambung ke alam maya.

Keempat, selalu mau upgrade keahlian. Blogger muslimah juga kudu mau ningkatin level keahliannya. Blog kan macem-macem. Ada blog tulisan seperti blogspot, multiply, dan wordpress. Ada juga blog khusus foto seperti photobucket dan flicker. Blog khusus lainya adalah blog video seperti youtube. Nah, untuk bisa menghasilkan konten yang bagus, blogger khususnya muslimah emang harus mau terus belajar dan belajar sehingga bisa bertambah lihai menulis, mengambil angle foto yang mencengangkan, dan membuat tayangan yang menggugah kesadaran.

Yuk mulai ngeblog sehat!

Kalau buat para sobat muslimah yang belum punya blog en pengen punya blog, nah sekarang nih saatnya. Pertama, pastiin kalian semua udah baca syarat blog sehat kayak apa. Dan selanjutnya, silakan memilih situs blog gratisan yang kalian inginkan. Atau mau beli domain sendiri? Silakan. Banyak yang menawarkan harga domain dan biaya hosting yang murah. Mau yang gratisan atau bayar nggak jadi soal yang penting isi mesti berkualitas.

Kalau udah punya blog, ya jangan ditinggal dong. Pelihara dengan baik. Isi terus blog kamu dengan postingan yang berkala. Eh ya jangan lupa, tukeran link sama saudara-saudara muslim lainnya supaya makin banyak yang datang ke blog kamu. Atau bikin pengumuman aja lewat situs www.gaulislam.com. Emang bisa? Bisa dong. Caranya, sering-sering deh berkunjung ke situsnya buletin gaulislam ini, terus rajin kasih komen sambil tempelin deh tuh link blog kamu di situ. Sip kan! Saling berbagi nggak bakal bikin rugi. So, para blogger muslimah, umat menunggu kiprahmu. Jadilah muslimah yang cerdas, shalihah, rajin dakwah, dan punya keterampilan oke. [Nafiisah FB| http://nafiisahfb.co.cc]

(Dikutip dari : http://www.gaulislam.com/kalo-cewek-ngeblog... )

Kado Cinta dari Islam

Posted in Buletin GAUL Islam, Tahun III/2009-2010 by Farah Zuhra on the March 1st, 2010
gaulislam edisi 123/tahun ke-3 (15 Rabiul Awal 1431 H/1 Maret 2010)



Harta terbesar pada diri manusia adalah adanya iman Islam dalam diri. Betapa banyak manusia lainnya yang tersesat tak menemukan jalan kebenaran meskipun sepanjang hidupnya ia telah mencari. Dalam pencariannya itu, tak jarang di antara mereka kemudian menjadi atheis alias tak percaya adanya Tuhan.

Ludwig Feurbach bilang: “Tuhan itu hanya proyeksi manusia yang kosong hatinya”. Karl Marx bilang: “Kalau manusia secara sosial ekonomi bisa hidup dengan baik, Tuhan just die out”. Fredrich Nietchze bilang: “Tuhan telah mati”. Sigmund Freud: “bertuhan itu seperti mendambakan seorang ayah saja, maka kalau kita langsung dewasa, kita tidak lagi butuh Tuhan”. Richard Dawkins bilang: “kebutuhan akan Tuhan itu hanya meme (semacam gene) yang menular dari brain-to-brain dalam proses evolusi”. Daniel Dennett bilang: “Pikiran akan Tuhan itu hanyalah gen mistik yang tertinggal dalam proses evolusi manusia”.

Pengikut mereka banyak, tersebar di seluruh penjuru dunia. Bahkan anehnya, banyak juga perguruan tinggi Islam yang menjadikan mereka, para atheis itu sebagai idola. Pemikirannya yang tulalit itu dikaji dan diikuti. Padahal sepanjang kisah hidup mereka hingga akhir hidupnya, berisi kisah tragis sepanjang masa. Contohnya Karl Marx. Ia hidup dalam kemelaratan dan keterasingan. Bahkan sedikit sekali orang yang mau menjadi temannya karena sikapnya yang buruk dalam berinteraksi dengan orang. Sebuah sikap seseorang ketika ia tidak menemukan apa yang dicari dalam hidup yaitu keimanan. Hidupnya penuh kegelisahan dan penuh ketidakteraturan.

Bersyukurlah kita yang sudah dikaruniai iman dan Islam sejak lahir. Meskipun begitu, iman ini haruslah ditingkatkan terus dan terus. Apalagi Allah Swt. sudah memberi bekal akal untuk semakin meyakini iman Islam ini. Bila potensi akal ini maksimal kamu gunakan, tak akan pernah goyah meskipun banyak orang dan peristiwa datang berusaha untuk meruntuhkannya. Bahkan dalam kondisi sepahit apa pun menurut kebanyakan orang, seorang mukmin itu bisa merasakan manisnya iman. Hebat!

Kado indah bernama iman ini pantas dan harus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan. Kamu masih ingat kan seorang budak bernama Bilal bin Rabbah yang bertahan pada iman Islamnya meskipun dadanya ditindih batu besar di tengah padang pasir yang panas? Yang dilafalkan Bilal cuma ‘Ahad! Ahad!’ secara berulang-ulang. Keimanan inilah yang mampu membuat seseorang bertahan dan berjuang seberapa berat kehidupan menghampiri.

Beda banget dengan kondisi jiwa orang-orang atheis itu. Akhir hidupnya selalu dipenuhi kisah memprihatinkan. Rumah tangga para tokoh calon penghuni neraka ini juga berantakan, bahkan tak jarang matinya pun bunuh diri. Jadi, sungguh nikmat iman dan Islam ini benar-benar begitu indah hadir sebagai kado kita sepanjang zaman.

Kado bernama Freedom

Freedom atau kebebasan adalah kado terindah bagi setiap makhluk hidup. Jangankan manusia, lalat aja bila ditangkap dan dimasukkan toples pastilah berjuang keras untuk menemukan jalan keluar agar bisa bebas lagi. Apalagi manusia yang mempunyai akal untuk berpikir, sudah pasti ia tak akan mau dipenjara atau diperbudak. Jadilah kebebasan menjadi daya tarik tersendiri untuk diperjuangkan.

Islam datang sejak awal memberi kebebasan pada manusia. Kebebasan dari segala macam pemberhalaan terhadap sesama makhluk. Berhala yang mengurung kebebasan ini bisa berupa harta, tahta dan wanita. Coba lihat, berapa banyak yang lemah tak berdaya di bawah kerling wanita. Kebebasannya jadi hilang karena yang ada hanya terpenjara pada nafsu syahwat saja. Begitu juga dengan harta dan tahta. Terjadinya saling bunuh dan pertikaian biasanya bermula dari rebutan harta dan tahta.

Manusia tak pernah bisa menjadi bebas hingga Islam datang dengan memberikan jalan keluar berupa penghambaan pada yang sepantasnya. Sifat lemah manusia membutuhkan sesuatu di luar dirinya yang bersifat Maha. Ketika manusia berhasil ‘menemukan’ Sang Maha ini, maka pada saat itulah ia merasa bebas karena keresahan hati telah terobati.

Penghambaan pada Allah Yang Esa telah menjadikan manusia menggapai kebebasan sejatinya. Gimana nggak kalo semua aturan Allah Swt. yang harus ditaati sebagai bukti taat sebagai hamba, pas bener dengan fitrah dan akal manusia. Coba deh kamu cari orang mukmin yang merasa gelisah dan terkekang karena kebebasannya terbatas. Nggak bakal nemu deh!

Misalnya saja seorang muslimah berjilbab karena taat pada Allah Ta’ala. Ketika orang-orang kafir itu menyebutnya sebagai pengekangan kebebasan perempuan untuk memilih mode, para muslim berpikir sebaliknya. Mereka merasa bebas dengan aturan dari Allah ini karena tak ada lagi laki-laki yang menilai mereka sebatas kulit dan daging saja. Mereka merasa menjadi perempuan berharga diri karena keimanan, ketakwaan, kecerdasan dan kebaikan hati-lah yang menjadi ukuran, bukan panjang pendeknya rambut sebagai mahkota yang harus ditutupi. Mereka jadi pengendali mata lelaki dalam memandang bagian tubuh mana yang boleh dilihat dan yang tidak. Tuh kan, keren banget!

Kado bernama syariah

Syariah adalah aturan. Yang dimaksud di sini so pasti syariat Islam bukan syariat lain-lain yang nggak jelas asal-usulnya. Syariah adalah kado cinta Islam bagi umat manusia dan lingkungan, bukan hanya muslim semata. Bagaimana bisa? Syariah menjamin kesejahteraan umat manusia dan lingkungan yang berada dalam lingkup penerapannya.

Misalnya saja perbuatan merusak alam dan lingkungan dengan menebang pohon sembarangan dilarang keras. Perilaku ini memberikan efek berantai bagi rusaknya keseimbangan alam berupa tanah longsor dan banjir. Bencana alam ini efeknya menelan korban jiwa manusia dan binatang di sekitarnya. Syariah Islam memberikan tuntunan agar tidak merusak pohon-pohon.

Itu dari segi perlindungan alam. Dari segi perlindungan manusia, Islam mempersembahkan kado indah untuk melindungi akal, jiwa dan harta. Gentel, seimbang dan impas.

Haramnya khamr atau minuman keras beralkohol adalah dalam rangka melindungi akal ini. Haramnya membunuh jiwa manusia tanpa alasan jelas bertujuan melindungi jiwa sehingga ada hukum qishash atau balik membunuh si pembunuh. Bahkan qishash ini bisa tak dilaksanakan apabila keluarga yang dibunuh memaafkan dan sebagai kompensasi ‘hanya’ dengan membayar sejumlah ganti rugi. Bukan kejam tapi ini manusiawi agar manusia tak sembarangan membunuh orang lain seperti misalnya Babeh yang membunuh banyak anak jalanan tapi proses hukumnya belibet.

Pencuri yang sudah mencapai jumlah tertentu dan bukan karena kelaparan akibat paceklik, dihukum potong tangan. Sanksi ini memberi efek jera kepada pelaku. Bandingkan dengan hukum sekuler yang memberi sanksi penjara 3 bulan bagi maling ayam dan cuma 2 tahun bagi koruptor milyaran rupiah. Keluar dari penjara bukannya insaf tapi malah lebih lihai karena para pencuri ini berguru kepada teman sesama napi trik-trik mencuri dan korupsi yang lebih canggih.

Masih banyak aturan Islam lainnya yang indah semisal di bidang pendidikan, sosial kemasyarakatan, ekonomi, bertetangga dan lain sebagainya. Islam itu bukan hanya hukum potong tangan, tapi Islam itu meliputi seluruh aspek kehidupan. Dan seluruh aspek kehidupan yang diatur oleh Islam ini tak bakal dapat terwujud nyata tanpa adanya sebuah sistem yang menerapkannya. Ibaratnya sebuah air yang jernih, kejernihan itu tak akan tampak ketika tak ada wadah yang menampungnya. Dan wadah bagi aturan Islam yang indah ini hanya ada pada sebuah sistem bernama Daulah Khilafah Islamiyah.

Meraih kado cinta Islam

Sejak diruntuhkan oleh seorang keturunan Yahudi bernama Mustafa Kemal Attaturk pada 3 Maret 1924, daulah Khilafah ini tak lagi ada di tengah-tengah kita. Maka pantas saja umat Islam jadi merana dan terlunta-lunta serta teraniaya karena tak punya pemimpin dan rumah yang bisa melindungi. Tapi jangan berkecil hati! Selalu saja ada cara untuk meraih kemuliaan itu dengan memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam sebagaimana telah terbukti selama lebih dari 14 abad.

Cara meraih kemuliaan itu adalah dengan dakwah dan jihad. Dakwah di sini adalah dakwah tanpa kekerasan. Ya, dakwah dengan membangkitkan pemikiran umat agar sadar dan bergerak. Jihad di sini pun bukan jihad ngawur mengebom sana-sini tanpa ilmu. Adanya sebagian orang yang suka bom inilah yang seringkali dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam untuk menyudutkan aktivis dakwah. Oleh karena itu dakwah dan jihad pun ada ilmunya, nggak bisa sembarangan aja main pukul rata.

Nah, untuk mencari ilmunya, kamu kudu bergerak dong! Nggak bisa ilmu datang tiba-tiba tanpa diupayakan. Yuk, hadir di majelis ilmu yang membahas tentang Islam sebagai the way of life, aturan hidup yang menyeluruh. Bukan hanya sekadar bisa sholat dan puasa tapi tak mau berdakwah. See, asik kan ternyata jadi orang muslim itu. Selalu ada kado cinta berebut pahala kebaikan di setiap kesempatan. Tidak tegaknya syariat Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah ini jangan sampai membikin kamu pasif. Sebaliknya, ketiadaan ini malah bikin kamu makin semangat bergerak dan berjuang untuk mewujudkannya lagi dalam kehidupan sehari-hari.

Tanamkan dalam diri kamu bahwa seorang muslim itu hidupnya mulia. Jadi jangan pernah deh mau diremehkan dan diinjak-injak oleh kaum kafir. Apabila ini yang terjadi maka mati syahid jauh lebih baik daripada hidup terhina di bawah kaki penjajah. Penjajah bukan hanya ada dalam sejarah kumpeni yang melakukan kerja rodi pada kakek nenek moyang kita. Tetapi penjajah masih ada saat ini dalam bentuk penjajahan ekonomi, politik, sosial, budaya dsb. Wah… makin gemas dan menambah semangat berjuang nih. Yuk, cintai Islam, pelajari dan pahami ajarannya, praktikkan dalam kehidupan nyata. Dukung dengan aktivitas dakwah Islam yang tanpa kekerasan. Kita bisa terlibat bersama dalam dakwah. Tentu sepakat dong ya. Harus itu! [ria: riafariana@yahoo.com]

(Dikutip dari : http://www.gaulislam.com/kado-cinta-dari-islam )

Cinta Tanpa Koma


Posted in Buletin GAUL Islam, Tahun III/2009-2010 by Farah Zuhra on the February 15th, 2010
gaulislam edisi 121/tahun ke-3 (1 Rabiul Awal 1431 H/15 Februari 2010)



Bicara tentang cinta pasti nggak pernah ada habisnya. Akan selalu ada cerita. Beragam cerita tentang berbagai versi cinta di dalamnya. Cerita bahagia. Cerita sedih. Cerita tentang kemarahan. Cerita tentang kerinduan. Cinta kepada orang tua. Cinta kepada sahabat. Cinta kepada saudara. Cinta kepada kekasih. Cinta kepada kekuasaan. Cinta kepada kekayaan.

Tapi, adakah cinta sejati di antara semua itu? Cinta yang dapat membuat pengorbanan dilakukan tanpa penyesalan. Cinta yang mampu melahirkan sejatinya kebahagiaan.

Ramai orang berlomba mencari cinta yang sesungguhnya. Mereka mencari, kita mencari, menapaki jalannya masing-masing dengan caranya sendiri. Ada yang dengan memperturutkan hawa nafsu, menjadikan diri sendiri sebagai satu-satunya penentu. Sehingga tidak heran bertebaranlah cinta rela mati ala Romeo dan Juliet atau ala Jack ‘n Rose. Sehingga lahirlah perayaan berhala cinta ala Juno Februata atau ala Dewa Zeus dan Hera. Cinta liar. Cinta tanpa akal. Cinta tanpa perenungan.

Lalu bagi kita, cinta sejati seperti apakah yang akan kita perjuangkan? Cinta sejati seperti apakah yang layak kita miliki dan bagi?

Cinta sejati yang terabai

Manusia ada karena diciptakan oleh Sang Penguasa Alam Semesta, Allah Swt. Allah telah ciptakan manusia dengan rasa butuh. Manusia membutuhkan makanan-minuman, pakaian dan tempat tinggal untuk bisa tetap menjalani kehidupan. Manusia membutuhkan perlindungan untuk bisa hidup dengan aman. Manusia membutuhkan pendidikan agar mampu berkembang.

Allah ciptakan manusia dengan kemampuan merasa: haru, marah, suka, takut, sedih, takjub, kecewa, cinta. Sehingga hidupnya bisa dijalani dengan lebih berwarna.

Allah ciptakan manusia dengan menyediakan segala isi bumi dan langit diperuntukkan bagi manusia. Allah curahkan air dari langit sebagai penyubur tanaman. Allah ciptakan laut dan sungai beserta makhluk di dalamnya. Allah telah ciptakan padang rumput untuk manusia bisa gembalakan hewan ternak bagi kepentingannya. Allah telah ciptakan pepohonan sehingga manusia bisa berteduh dan membuat tempat tinggal.

Allah telah ciptakan padi, gandum, jagung, ketela untuk mengenyangkan perut manusia. Allah telah ciptakan api dan barang tambang sehingga manusia bisa hidup lebih nyaman. Air, api, udara, tanah, Allah sudah serahkan semuanya bagi manusia. Allah telah hadirkan akal pada manusia sehingga mampu selalu memajukan hidupnya. Dan itu yang teristimewa. Namun, apa yang telah manusia perbuat untuk membalas cintaNya?

Cinta Allah dibalas dengan pendustaan terhadap perintah dan laranganNya. Cinta Allah dibalas dengan penolakan untuk berhukum berdasarkan aturanNya. Yang halal tidak dipedulikan! Yang haram dilanggar! Cinta Allah dibalas dengan pelalaian, pembohongan, dan keengganan untuk taat sepenuhnya, untuk mengabdi sepenuh jiwa. Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw. hanya dipakai sesekali, tidak untuk dikaji lagi dan ditaati. Ironis. Miris.

Cinta sejati tak akan pernah menyakiti

Cinta Allah kepada makhlukNya adalah ampunan dan nikmatNya atas mereka, dengan rahmat dan ampunanNya, serta pujian yang baik kepada mereka. Cinta Allah kepada kaum mukmin adalah pujian, pahala, dan ampunan bagi mereka (Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah, hlm.: 42)

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya dari hadist Anas bin Malik r.a. Dia berkata: “Rasulullah saw bersabda tentang apa yang beliau riwayatkan dari Rabnya. Dia berfirman : ‘….Jika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar. Aku menjadi matanya yang ia gunakan untuk memandang. Aku menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memegang. Aku menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. DenganKu ia mendengar, denganKu dia memandang, denganKu dia memegang, denganKu dia berjalan. Seandainya ia meminta kepadaKu, niscaya Aku benar-benar memberikan kepadanya permintaanya, dan seandainya dia berlindung kepadaKu, niscaya Aku benar-benar melindunginya….”

Dari Anas r.a., sesungguhnya Rasulullah saw bersabda:”Ada tiga perkara, siapa saja yang memilikinya ia telah menemukan manisnya iman. Yaitu orang yang mencintai Allah dan RasulNya lebih dari yang lainnya, orang yang mencintai seseorang hanya karena Allah, dan orang yang tidak suka kembali kepada kukufuran sebagaimana dia tidak suka dilemparkan ke Neraka.” (Mutafaq ‘alaih)

Indah. Teramat indah cinta yang Allah Swt. anugerahkan kepada manusia. Cinta yang melebihi cinta semua makhluk di seluruh jagad raya. Kalau kita membalas cinta itu dengan tulus dijamin tidak akan pernah bertepuk sebelah tangan, bahkan balasannya melebihi apa yang kita mampu perkirakan.

Itulah cinta Allah, cinta sejati. Cinta yang nggak akan pernah menyakiti.

Cinta tanpa koma

Cinta Allah bagi para hambaNya sudah sangat jelas tidak akan pernah lekang oleh jaman. Nggak pernah habis digerus kondisi, situasi, dan waktu. Lalu bagaimana sebaliknya? Balasan seperti apa yang sepatutnya kita persembahkan bagi Allah? Pastinya cinta haruslah dibalas dengan cinta. Cinta yang seperti apa? Al Zujaj berkata, “Cintanya manusia kepada Allah dan RasulNya adalah menaati keduanya dan ridlo terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw.”

Di sebuah kisah, Rasulullah saw, Abu Bakar, Umar, dan Utsman datang bertamu ke rumah Ali. Di sana mereka dijamu oleh Fathimah, putri Rasulullah sekaligus istri Ali bin Abi Thalib. Fathimah menghidangkan untuk mereka semangkuk madu. Ketika mangkuk itu diletakkan, sehelai rambut jatuh melayang dekat mereka. Rasulullah segera meminta para sahabatnya untuk membuat perbandingan terhadap ketiga benda tersebut, yaitu mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut. Malaikat Jibril yang hadir bersama mereka, turut membuat perumpamaan, “Menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik. Menyerahkan diri, harta, dan waktu untuk agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” Allah Ta’ala, pun membuat perumpamaan dengan firmanNya dalam hadits Qudsi, “SurgaKu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu. Nikmat surgaKu itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju surgaKu lebih sulit dari meniti sehelai rambut.” (Sabili No.09 Th.X)

Cinta kita kepada Allah akan mampu membuat kita rela berkorban apa saja demi Dia, membuat kita akan terus mengingatNya, tunduk terhadap segala tuntunanNya, dan bersabar atas segala ujian dariNya. Tanpa kita was-was kalau cinta kita tidak berbalas. Allah sendiri yang menjanjikan seperti yang termaktub dalam hadist Qudsi di atas. Surga. Memang akan selalu muncul rintangan di tengah perjalanan. Akan ada jalan terjal menuju ke sana. Namun Allah sudah pastikan surga itu nyata ada buat kita.

Cinta kepada Allah memang harus diletakkan di atas segalanya. Namun, bukan berarti cinta kita kepada manusia yang lain tersingkirkan. Cinta seperti itu seharusnya tetap ada dan memang akan terus ada karena secara alami Allah telah ciptakan bagi kita. Namun, harus dipastikan bahwa iman yang menjadi satu-satunya sandaran. Sandaran bagi cinta. Sandaran bagi benci kita.

Allah berfirman dalam hadist Qudsi:”KecintaanKu pasti akan diberikan kepada orang-orang yang saling mencintai karenaKu. KecintaanKu berhak diperoleh oleh orang-orang yang saling mengunjungi karenaKu. Kecintaanku berhak diperoleh olah orang yang saling memberi karenaKu. KecintaanKu berhak diperoleh oleh orang yang saling menjalin persaudaraan karenaKu.”

Keindahan cinta seperti itu pernah ditunjukkan oleh Suhail bin Amr, Ikrimah bin Jahal, dan Al Harist bin Hisyam. Ketiganya adalah syuhada di Perang Yarmuk tahun 15 H. Saat itu mereka bertiga mengalami dahaga yang luar biasa. Para sahabat yang mengetahui itu segera membawakan air kepada Ikrimah. Namun Ikrimah menolak karena dia melihat Suhail merasakan yang sama. Ikrimah meminta para sahabat memberikan air itu kepada Suhail. Rasa haus sudah mencengkeram kerongkongan, namun di titik nafas penghabisan itu Suhail melihat Al-Harits bin Hisyam juga sedang kehausan. Dia meminta air itu diberikan kepada Al Harits. Ketika air itu tiba, ternyata Al Harits sudah tiada. Air itu segera dibawa ke Ikrimah kembali, ternyata dia pun sudah tidak bernafas lagi. Sahabat langsung membawakan air kepada Suhail, ternyata kondisi Suhail pun sama, sudah gugur menjadi syuhada. Akhirnya mereka bertiga syahid dalam pengorbanan dan kesetiaan kepada saudara seiman, seakidah, dan tentunya wafat dalam berjuang di jalan Allah, jihad fisabilillah.

Jangan sampai iman pudar lalu hawa nafsu yang menang. Ketika itu yang terjadi maka cinta Allah yang agung tidak akan pernah bisa diindera, dirasa. Cinta antar manusia pun hanya akan berbuah malapetaka. Keinginan kita menuju surgaNya akan sirna.
“Betapa buruk pemuda yang memiliki budi pekerti

dipaksa mengorbankan adab karena nafsu diri

kehinaan didatangi padahal ia mengetahuinya

kehormatannya terkoyak dan kehinaan dijaga

kesadarannya bangkit tatkala dia jatuh terjerembab

dia menangis tatkala tak mampu lagi bangkit” (Syair Abu Bulaf al-Ajly)

Bro en Sis, Allah Swt. masih memberikan kesempatan bagi kita untuk mencintaiNya dan kita masih memiliki peluang untuk menerima curahan kasih sayangNya. Lalu mengapa kita tidak berusaha mewujudkan itu pada diri kita? Jangan sampai ada rasa sesal di kemudian hari karena kesempatan yang berharga telah hilang dari diri.

Cinta Allah akan senantiasa mengalir bagi para hambaNya. Siang. Malam. Saat manusia terjaga. Saat manusia terlelap. Ketika manusia ingat. Ketika manusia khilaf. Tiap detik helaan nafas. Tiap hentakan langkah yang kita buat. Tiap waktu cinta Allah hadir selalu. Cinta tanpa titik akhir. Tanpa jeda. Cinta tanpa koma. Kita pun wajib membalasnya dengan upaya sekuat tenaga untuk memgkokohkan iman, memelihara perjuangan, tentunya diiringi doa dan ketulusan. [nafiisah: http://nafiisahfb.co.cc]

(Dikutip dari : http://www.gaulislam.com/cinta-tanpa-koma )